I AM A KILLER!

Assalamu'alaikum gaes!!!

How are y'all?! Hopefully y'all ok👌

Okehh, langsung aja ke inti ceritanya. Jadi, for the first time nih gue coba buat kayak semacam creepypasta gitu. Tapi, maaf banget kalo terlalu singkat dan mungkin kurang horor. Semoga kalian suka:)

Happy Reading!😊

I'M A KILLER


Kriekk....

Tidurku terusik, sebab mendengar suara derit pintu kayu kamarku yang berada di lantai dua terbuka. Perlahan kucoba membuka mata, ingin melihat siapa pelakunya. Aku mengucek kedua mataku untuk mempertajam penglihatan, dan kulihat siluet anak perempuan seusiaku keluar dari pintu kamarku berbelok ke arah kanan. 

Siapa dia?! gumamku.

Aku membuntutinya secara diam-diam. Aku berjalan dengan penuh waspada, takut jika anak itu mengetahui keberadaanku. Langkahku sengaja kupelankan supaya tidak menimbulkan suara ketika aku menginjak lantai kayu rumahku yang sudah cukup usang.

Anak perempuan itu membuka pintu kamar kedua orang tuaku perlahan. Sedangkan aku berdiri di balik dinding dekat pintu kamar kedua orang tuaku, mengintip sedikit. Kulihat anak itu berjalan menghampiri ranjang kedua orang tuaku. Ia lebih dulu berjalan di ranjang sisi kanan, di mana Ayahku tertidur lelap. Ia menatap Ayahku dengan tatapan kosong yang menyeramkan. Aku tak tahu apa maksud tatapannya itu. Tiba-tiba saja, anak itu mengambil bantal dari balik kepala Ayahku secara perlahan, kemudian menutupkan bantal tersebut ke arah wajah Ayahku. Ayahku yang menderita serangan jantung, langsung tak bernapas dalam hitungan detik saja.

Aku menganga tak percaya melihat kejadian itu. Hendak berteriak namun tertahan, hanya bisa menutup mulut tak percaya dan menangis tanpa suara. Tak cukup membunuh Ayahku, anak itu melanjutkan aksinya dengan berjalan menghampiri ibuku di ranjang sisi kiri dekat nakas. Hal yang sama dilakukannya, menatap Ibuku seperti ia menatap Ayahku sebelum dibunuhnya. Kulihat tangan anak itu mendekat ke arah leher Ibuku, dan aku hanya bisa berkata 'jangan' dalam hati seraya menggeleng seolah melarang untuk tidak melakukan hal itu, namun tidak bisa. 

Anak itu mencekik leher Ibuku secara paksa hingga membuat Ibuku terpelotot dan kehabisan napas. Seketika itu, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, lagi-lagi aku tidak bisa. Aku berbalik ke kamar terburu-buru dan hendak bersembunyi, takut jika selanjutnya akulah korbannya. Namun, malangnya aku yang malah tersandung ketika memasuki pintu kamar.

* * *

Brukkk...

"Aduh!!!" Aku mengelus jidatku yang sakit akibat terjerembap ke bawah kasur. 

"Hmm... Ternyata hanya mimpi." lanjutku.

Aku berjalan ke dapur yang berada di lantai satu untuk meneguk segelas air mineral. Setelah minum, aku baru tersadar, mengapa di jam segini rumahku masih sepi? Biasanya di hari Minggu seperti ini, pagi-pagi sekali Ibu sudah membuat sarapan di dapur, dan Ayah sudah membaca koran atau menonton berita di televisi. Akhirnya, kuputuskan untuk mengecek di kamar mereka barangkali mereka masih tertidur, namun aneh sekali jika hal ini betulan terjadi.

Aku kembali berjalan naik ke lantai dua dan menuju kamar kedua orang tuaku. Pintu kamarnya sudah dalam kondisi terbuka, aku langsung memasukinya saja. Namun...

"Tidak... Tidak mungkin!!!" Aku berlari menghampiri ranjang kedua orang tuaku. Kutemukan mereka sudah dalam keadaan tidak bernyawa, wajahnya mereka sangat pucat. Apalagi Ibu, matanya juga melotot dan mulutnya menganga. Aku hanya bisa menangis berteriak sembari menghamburkan pelukan ke Ayah dan Ibu secara bergantian. 

"Siapa yang melakukan ini pada kalian? Bilang padaku! Akan kuhabisi orang itu."

"Hahaha..!!!" 

Aku terkejut dengan suara tawa yang tiba-tiba memenuhi seisi kamar kedua orang tuaku. 

"Siapa kamu?" teriakku, "Pasti kamu si pembunuh itu, kan?!"

"Hahaha... Kamu salah besar!"

"Apa maksudmu?" bentakku.

"Kamulah orang yang sudah membunuh dua orang yang kamu sayang!"

"Tidak! Tidak mungkin." aku jelas menyangkalnya.

"Apa kamu lupa, ha?! Kamulah yang keluar dari kamarmu pukul tiga dini hari. Lalu berjalan menuju kamar kedua orang tuamu, dan kamu membunuh mereka. Apa kamu tidak ingat kalau kamu sudah membekap Ayahmu dengan bantal, lalu mencekik Ibumu, hingga mereka mati?!"

"TIDAK MUNGKIN!!!" teriakku masih menyangkal. Aku menangis keras dan menjambak rambut sembari menggeleng tak percaya.

"Mau seberapa banyak pun kamu mengatakan tidak mungkin, namun faktanya kamu tetaplah pembunuh, wahai gadis manis. Hahaha...!!" teriak suara misterius itu.

"Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kamu jahat sekali?"

"Tidak salah kamu berbicara seperti itu? Bukankah kamu yang jahat karena sudah membunuh kedua orang tuamu sendiri dan tanpa meninggalkan bercak darah setetes pun?!"

~ THE END ~

Hiyaa... Gimana menurut kalian buat orang yang baru pertama kali bikin cerita horor?! Maklumin aja lah yak kalo masih absurd, kurang horor, kurang sadis, dan kurang-kurang yang lainnya.

Kalo mau gue bikin cerita kayak gini lagi, komen ajak yak. Ok?!

See u💙

Komentar